Barcelona Protes Resmi ke RFEF Usai Kalah dari Atletico Madrid

Sabtu, 14 Februari 2026 | 09:39:07 WIB
Barcelona Protes Resmi ke RFEF Usai Kalah dari Atletico Madrid

JAKARTA - Kekalahan telak yang dialami Barcelona di panggung semifinal Copa del Rey 2025/2026 menyisakan luka yang lebih dalam dari sekadar angka di papan skor. Barcelona tidak hanya pulang dengan kekalahan telak 0-4 dari Atletico Madrid, tetapi juga membawa pulang bara kekecewaan yang membesar sejak peluit akhir dibunyikan. Hasil minor di Stadion Metropolitano pada Jumat dini hari WIB tersebut kini berujung pada potensi konflik administratif yang melibatkan otoritas tertinggi sepak bola Spanyol.

Kekalahan di semifinal Copa del Rey itu bukan sekadar soal skor, melainkan juga soal keputusan-keputusan kontroversial yang dinilai merugikan. Atmosfer di internal klub asal Catalan tersebut dilaporkan sedang mendidih, di mana rasa frustrasi para pemain merambat hingga ke jajaran manajemen. Menurut laporan media Spanyol, petinggi klub kini tengah mempertimbangkan langkah serius dengan mengajukan pengaduan resmi kepada Federasi Sepak Bola Kerajaan Spanyol. Situasi ini menunjukkan bahwa kemarahan di internal klub tidak berhenti di ruang ganti, melainkan telah menjadi agenda institusional.

Sejumlah keputusan wasit dalam laga krusial tersebut dianggap tidak konsisten dan berdampak langsung terhadap jalannya pertandingan. Dalam duel sepenting semifinal Copa del Rey, detail kecil bisa menentukan nasib, dan Barcelona merasa detail-detail itu tidak berpihak kepada mereka. Di tengah tekanan skor yang sudah berat, kontroversi kepemimpinan wasit justru mempertebal rasa frustrasi. Bagi Barcelona, ini bukan hanya soal kalah, tetapi tentang bagaimana laga sebesar ini seharusnya dikendalikan dengan standar tertinggi.

Siap Tempuh Jalur Resmi ke RFEF

Berdasarkan perkembangan terbaru di Madrid, manajemen Blaugrana tidak ingin membiarkan kejadian di lapangan berlalu begitu saja tanpa evaluasi formal. Mengacu pada laporan Mundo Deportivo, Barcelona kini membuka opsi untuk melayangkan keluhan resmi kepada Real Federación Española de Fútbol atau RFEF. Langkah ini diambil setelah evaluasi internal yang menyimpulkan bahwa sejumlah keputusan wasit Martínez Munuera dinilai problematik dan berat sebelah.

Sejak peluit akhir berbunyi, suasana di kubu Blaugrana disebut-sebut memanas. Para petinggi klub menilai beberapa momen kunci justru mengubah arah pertandingan, terutama ketika tim sedang mencoba membangun momentum untuk bangkit setelah tertinggal. Barcelona meyakini, dalam pertandingan sekelas semifinal Copa del Rey, standar kepemimpinan wasit harus berada pada level tertinggi guna menjaga kredibilitas kompetisi itu sendiri.

Inkonsistensi dalam pengambilan keputusan dinilai mengganggu ritme permainan dan memengaruhi stabilitas mental para pemain di lapangan. Lebih dari itu, klub merasa perlu bersikap tegas demi menjaga integritas kompetisi. Dengan mempertimbangkan pengaduan resmi, Barcelona ingin memastikan kejadian serupa tidak terulang dalam laga-laga penting berikutnya, baik di kompetisi domestik maupun internasional.

Insiden Simeone, Gol Cubarsi, dan Drama VAR yang Bikin Geram

Kemarahan Barcelona berakar pada tiga insiden krusial yang dianggap sebagai titik balik negatif bagi mereka. Salah satu momen yang memicu kemarahan terbesar adalah tekel Giuliano Simeone terhadap Alejandro Balde di babak kedua. Banyak pihak di internal Barcelona meyakini pelanggaran tersebut layak diganjar kartu merah karena membahayakan keselamatan pemain. Namun, keputusan wasit untuk tidak mengusir pemain lawan memantik tanda tanya besar bagi seluruh tim tamu.

Bagi Barcelona, keputusan itu bukan sekadar detail kecil. Dalam pertandingan dengan tensi tinggi, kartu merah bisa mengubah dinamika taktik secara drastis dan memberikan keuntungan jumlah pemain bagi tim yang sedang mencoba mengejar ketertinggalan. Ketika hal itu tidak diberikan, rasa keadilan pun dipertanyakan oleh staf kepelatihan Hansi Flick.

Kontroversi berikutnya muncul saat gol Pau Cubarsi dianulir setelah tinjauan VAR yang berlangsung sekitar enam setengah menit. Proses yang sangat lama itu membuat pemain, pelatih, hingga penonton menunggu tanpa kejelasan komunikasi di dalam stadion. Kemarahan semakin menjadi karena penggunaan sistem offside semi-otomatis yang seharusnya mempercepat proses justru tidak memberikan jawaban instan, yang dianggap sangat aneh untuk teknologi mutakhir di tahun 2026.

Manajer Barcelona, Hansi Flick, bahkan disebut tidak mendapat penjelasan apa pun dari ofisial saat pertandingan dihentikan untuk peninjauan yang melelahkan tersebut. Situasi itu mempertebal rasa frustrasi di tepi lapangan, mengingat ketidakjelasan informasi sering kali merugikan fokus pemain yang sedang bertanding. Semua insiden tersebut dianggap sebagai rangkaian keputusan yang berdampak signifikan terhadap jalannya laga secara keseluruhan.

Dalam pertandingan besar yang sarat tekanan, Barcelona merasa dirugikan bukan hanya oleh efektivitas serangan balik Atletico Madrid yang mematikan, tetapi juga oleh keputusan-keputusan yang dinilai kurang transparan. Pada akhirnya, kekalahan 0-4 memang tercatat di papan skor sebagai kenyataan pahit yang harus diterima secara teknis. Namun bagi Barcelona, cerita pertandingan itu jauh lebih kompleks daripada sekadar dominasi lawan. Jika protes resmi benar-benar diajukan ke meja RFEF, polemik ini bisa berbuntut panjang dan menambah panas persaingan di panggung sepak bola Spanyol musim ini, terutama menjelang laga leg kedua nanti.

Terkini